kritiktajam.com
Berita Terkini

Tertib Lalu Lintas: Lebih dari Sekadar Takut Polisi

Lalu Lintas

Tertib berlalu lintas sering disalahpahami sebagai sesuatu yang cuma muncul karena pengendara takut ada polisi di jalan. Misalnya, berhenti di lampu merah hanya supaya nggak kena tilang, pakai helm karena takut diperiksa, atau nggak melawan arus hanya kalau ada petugas yang terlihat. Sayangnya, kalau kepatuhan cuma karena takut, biasanya gampang hilang saat pengawasan nggak kelihatan.

Nah, Operasi Patuh 2026 ingin kita ubah cara pikir itu. Tertib di jalan harusnya lahir dari kesadaran bersama kalau setiap orang punya hak yang sama untuk selamat. Jalan raya itu ruang bersama, yang harus kita jaga dengan saling menghormati.

Lalu lintas bukan cuma soal kendaraan dan aturan di atas kertas. Jalan adalah ruang sosial tempat berbagai kepentingan, emosi, dan tanggung jawab bertemu. Sikap kita di jalan nggak cuma berpengaruh pada diri sendiri, tapi juga keselamatan orang lain.

Salah satu pondasi paling sederhana dari budaya tertib adalah empati. Contohnya, saat kamu memberi jalan pada ambulans, kamu menghargai nyawa yang harus diselamatkan. Atau saat berhenti di zebra cross, kamu menghormati hak pejalan kaki dapat berjalan dengan aman.

Tapi kenyataannya, empati di jalan sering kalah sama ego. Banyak orang merasa perjalanannya paling penting, waktunya paling mendesak, dan kendaraannya paling berhak didahulukan. Sikap kayak gini bikin pelanggaran kecil bisa berujung risiko besar.

Etika berlalu lintas juga penting, meski nggak selalu tertulis lewat sanksi. Sikap sederhana seperti nggak menyerobot antrean, nggak membunyikan klakson berlebihan, nggak potong jalur tiba-tiba, dan nggak main ponsel saat berkendara, itu semua menentukan kualitas keselamatan di jalan.

Operasi Patuh 2026 jadi kesempatan bagus buat menguatkan etika itu. Polisi tugasnya memang menegakkan hukum, tapi sehari-hari, wajah lalu lintas ditentukan oleh kita semua. Kalau etika tumbuh, kepatuhan nggak cuma karena ada polisi di sana.

Ingat, jalan raya bukan milik pengendara tertentu. Di sana ada mobil, motor, angkutan umum, pesepeda, pejalan kaki, sampai kendaraan darurat yang butuh prioritas. Semua punya hak yang sama buat sampai tujuan dengan selamat.

Itulah kenapa tertib lalu lintas sebenarnya bentuk saling menghormati ruang publik bersama. Melawan arus, menerobos lampu merah, atau berhenti sembarangan bukan cuma melanggar aturan, tapi juga abaikan hak orang lain.

Kepatuhan yang ideal bukan lahir dari takut ditilang. Dia lahir dari kesadaran bersama bahwa keselamatan itu tanggung jawab kita bersama. Ketika kita tertib walau tanpa polisi, budaya keselamatan mulai tumbuh.

Jadi, Operasi Patuh bukan cuma soal menindak pelanggaran. Ini ajakan untuk membangun masyarakat yang lebih dewasa di jalan raya. Karena jalan yang aman bukan dari ketakutan, tapi dari kesadaran untuk saling menghormati dan menjaga sesama.

Sumber: korlantaspolri, mediahub, polri.go.id 

Related posts

Daftar Negara yang Tolak Paspor Israel

Salma Hn

Pendeta Petrus Bonyadone, M.Th: Polri Telah Berkontribusi Besar dalam Menjaga Kedamaian Papua

admin

Daftar Perguruan Tinggi Nyatakan Sikap Atas Melencengnya Demokrasi di Era Presiden Jokowi

Dian Purwanto

Leave a Comment