kritiktajam.com
Berita Opini

Sudut Pandang Jokowi: ‘No Water, No Life’, di World Water Forum ke-10

Presiden Joko Widodo di World Water Forum ke-10

JAKARTA  – Dalam sorotan World Water Forum (WWF) ke-10 di Bali, pernyataan Presiden Joko Widodo, “Tanpa air tidak ada makanan, tidak ada perdamaian, tidak ada kehidupan,” bukanlah sekadar pepatah melainkan seruan bagi keberlangsungan masa depan yang lebih aman dan sejahtera. Komentar tersebut menegaskan urgensi pengelolaan sumber daya air yang efektif dan inklusif, memahami bahwa air adalah kunci dari banyak aspek kehidupan.

1. Akses Air Bersih: Lebih dari sekedar kebutuhan dasar, air bersih adalah fondasi untuk kesehatan dan higiene. Pidato Presiden Jokowi tidak hanya mengajak negara-negara untuk fokus pada kuantitas tetapi juga kualitas air yang tersedia untuk masyarakat. Dengan realisasi bahwa hanya 1% dari seluruh permukaan air di bumi yang dapat diakses untuk konsumsi manusia, urgensi untuk sanitasi layak menjadi jelas. Sebuah komitmen global untuk memastikan akses ke air bersih yang aman harus menjadi prioritas utama.

2. Kebutuhan Sanitasi: Sanitasi yang memadai merupakan pilar penting bagi kesehatan publik dan pengelolaan lingkungan. Akses sanitasi layak berkorelasi langsung dengan penurunan angka morbiditas dan mortalitas akibat penyakit bawaan air. Sehingga, kebijakan yang mendukung pembangunan infrastruktur sanitasi memainkan peran kritikal dalam upaya pembangunan berkelanjutan.

3. Ketahanan Pangan: Presiden menyoroti betapa 500 juta petani kecil, yang menyumbang sekitar 80% dari pangan dunia, akan menjadi golongan yang paling rentan mengalami kekeringan pada tahun 2050. Artinya, tanpa manajemen air yang baik, terancamnya ketahanan pangan dunia tidak bisa dihindarkan. Segenap pemangku kepentingan perlu mengadopsi langkah-langkah proaktif dalam konservasi air serta penerapan teknologi irigasi yang efisien untuk memastikan ketersediaan air untuk pertanian.

Komitmen untuk pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan oleh Indonesia dan dunia diejawantahkan melalui kerja bersama, seperti yang terlihat di forum internasional ini. Solusi inovatif untuk kekeringan global dan pencegahan bencana hidrometeorologi menjadi beberapa fokus utama yang dibahas.

Peran teknologi pengolahan juga tidak dapat diabaikan. Memaksimalkan teknologi terkini untuk pengolahan air, baik untuk meningkatkan kualitas maupun efisiensi penggunaannya, esensial untuk mendukung upaya konservasi. Hal ini sejalan dengan komitmen Indonesia untuk membangun fondasi pengelolaan air yang kuat guna mencapai pembangunan berkelanjutan yang inklusif dan berkelanjutan.

Optimisme Kerjasama Internasional: Memperkuat Komitmen Global

Menghadiri World Water Forum (WWF) ke-10 di Bali, Presiden Joko Widodo menyuntikkan semangat baru dalam bentuk optimisme terhadap potensi kerjasama internasional di bidang pengelolaan sumber daya air. Sebuah panggung dunia yang mengumpulkan para pemimpin untuk merumuskan aksi nyata dalam mengatasi isu lingkungan, khususnya pengelolaan air, telah melahirkan serangkaian komitmen global demi mengamankan masa depan hidrologi planet ini.

Para pemimpin dunia yang hadir menyetujui pentingnya kerja sama untuk menjamin akses sumber daya air bagi seluruh lapisan masyarakat. Inisiatif kolaboratif telah diindentifikasi sebagai kunci untuk menanggulangi solusi kekeringan global yang menjadi ancaman nyata bagi pertanian dan penghidupan. Dialog intens antarnegara membuahkan hasil dalam bentuk komitmen bersama untuk pembangunan berkelanjutan dan penyediaan air bersih serta akses sanitasi layak bagi semua.

Komitmen yang dibangun di forum ini tidak hanya dirancang sebagai wacana, tetapi juga sebagai seruan untuk aksi yang dapat direalisasikan. Presiden Joko Widodo, dengan tegas, menekankan betapa air adalah kebutuhan fundamental yang harus dijaga ketersediaannya dan dikelola dengan bijak.

Pencegahan bencana hidrometeorologi menjadi salah satu topik utama, dengan negara-negara sepakat untuk berinvestasi dalam teknologi pengolahan yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Kesepakatan untuk memperkuat konservasi lingkungan hidup ditegaskan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan.

Inisiatif secara global ini merupakan satu langkah maju dalam meredefinisi masa depan pengelolaan sumber daya air, dengan memperhatikan keadilan akses dan keberlanjutan. Presiden Joko Widodo dan para pemimpin lainnya telah menunjukkan keseriusannya dengan membuka ruang konsultasi, kerjasama, dan implementasi program melalui kerjasama internasional yang konkret di berbagai level pemerintahan dan pengambilan keputusan.

Dalam kerangka World Water Forum ke-10 yang sedang berlangsung di Bali, salah satu fokus utama adalah pembahasan mengenai strategi pengelolaan sumber daya air yang lebih inovatif dan berkelanjutan. Mencermati kebutuhan mendesak atas air bersih dan keberlangsungan ekosistem, teknologi pengolahan sumber daya air menempati posisi penting dalam diskusi ini.

Teknologi Desalinasi: Dengan melihat krisis air yang terjadi di berbagai belahan dunia, desalinasi laut menjadi topik hangat karena potensinya dalam menyediakan akses air bersih. Di forum WWF ke-10, teknologi desalinasi diangkat sebagai salah satu breakthrough dalam mengatasi keterbatasan sumber air tawar yang ada. Beberapa inovasi seperti desalinasi berbasis energi matahari (solar desalination) dan teknologi osmosis terbalik low-energy menjadi bahan diskusi utama.

Sistem Smart Water Management: Pemasangan sensor dan alat pengukur canggih di infrastruktur pengelolaan air memberikan kemungkinan besar untuk memantau dan mengelola sumber daya air dengan lebih efisien. Pembicara di WWF ke-10 membahas penerapan teknologi seperti Internet of Things (IoT) yang bisa memprediksi dan mencegah kehilangan air akibat kebocoran, serta menyokong upaya konservasi air.

Pemanfaatan Teknologi Satelit: Guna merespon tantangan kekeringan global, penggunaan teknologi satelit untuk memonitor ketersediaan air dan memetakan wilayah rawan kekeringan telah menjadi terobosan penting. Melalui WWF ke-10, kerjasama internasional air dalam berbagi data satelit dan analisa geospasial diharpakan akan menghasilkan solusi yang lebih tepat guna untuk wilayah yang sering terkena dampak.

Dalam forum ini juga ditekankan pentingnya investasi dalam riset dan pengembangan. Para ahli menegaskan bahwa dengan meningkatkan kerjasama antara negara, lembaga riset, dan sektor swasta, inovasi dalam teknologi pengolahan sumber daya air bisa dipercepat. Misalnya, penciptaan sistem pemurnian yang tidak hanya efisien secara energi, tetapi juga ramah lingkungan dan dapat diekspor sebagai solusi bagi negara yang membutuhkan.

Festival solusi inovatif ini bukan hanya menjadi ajang pamer kemajuan teknologi, tetapi juga sebagai momentum untuk mengukuhkan kesepakatan kerjasama internasional dalam menghadapi masalah air yang bersifat transnasional. Lantaran itu, World Water Forum ke-10 di Bali menjadi lebih dari sekadar forum, ia adalah titik tolak untuk masa depan pengelolaan air yang berkelanjutan dan inklusif, dimotori oleh inovasi dan teknologi canggih.

Seiring penutupan World Water Forum (WWF) ke-10 yang berlangsung di pulau dewata Bali, fok

Related posts

Seruan #JagaDamaiJagaSuara untuk Indonesia Setelah Pesta Demokrasi Pemilu 2024

Dian Purwanto

Memahami Politik Identitas dalam Konteks Indonesia Modern

Salma Hn

Kritik RUU Polri dan Potensi Dampaknya

Dian Purwanto

Leave a Comment